Kekesalan Costa Pada Chelsea Dan Conte

Diego CostaDiego Costa merasa sangat kesal dengan Chelsea dan Antonio Conte yang memperlakukannya seperti seorang penjahat. Costa merasa diperlakukan secara tidak adil oleh klub.

Tidak ada lagi cerita indah Costa seperti ketika dia mengantarkan Chelsea jadi juara Premier League musim 2016/2017. Di musim perdana Conte sebagai manajer, Costa mencetak 20 gol di liga yang berperan besar dalam keberhasilan The Blues.

Sayangnya, setelah musim 2016/2017 usai yang ditandai dengan kekalahan Chelsea di final Piala FA, Costa diminta segera untuk angkat kaki dari Chelsea. Dalam sebuah pesan singkat ke penyerang 28 tahun itu, Conte mengatakan jika sudah tidak lagi membutuhkan Costa.

Tidak cukup sampai saat di situ, Costa tidak dibawa dalam tur pramusim Chelsea bersama para pemain lainnya. Dia dipinggirkan dan diminta berlatih bersama tim cadangan. Costa pun memilih pergi dari Inggris, liburan bareng kerabat serta keluarganya, dan sampai saat ini berada di kampung halamannya, Lagarto, Brasil.

Costa ketika itu merasa sangat kesal dan bingung kenapa Conte mendadak memperlakukannya seperti itu. Apalagi manajer berkebangsaan Italia itu tidak memberitahukannya secara langsung kepadanya dan hanya melalui pesan singkat.

“Saya menunggu Chelsea. Saya masih ingin di sini. Saya bahagia. Ketika manajer tidak menginginkan Anda, Anda harus pergi. Tanyakan saja kepada rekan-rekan setim saya, mereka pasti akan berkata sama. Mereka mengirim pesan kepada saya jika mereka merindukan saya,” tutur Diego Costa kepada Daily Mail.

“Masalah saya dengan pelatih bermula di bulan Januari. Saya sebenarnya ingin meneken kontrak baru dan mereka kemudian membatalkannya. Saya pikir ini semua karena manajer. Dia yang memintanya. Dia sangat jujur dan terbuka. Saya sudah tahu tipe orang seperti dia. Dia punya pendapat sendiri dan tidak akan berubah,” sambung Diego Costa.

“Saya menghormati Antonio Conte sebagai seorang pelatih hebat. Dia sudah melakukan pekerjaan hebat di Chelsea dan saya melihat itu, tapi tidak untuk kepribadiannya. Dia adalah sosok pelatih yang tidak dekat dengan pemain-pemainnya.”

Leave a Reply